No Idea

Aku pingin berhenti fangirling. Tapi berat sekali melewatkan melihat senyum manisnya Calum Hood. Aku tahu aku jatuh makin dalam dan dalam tiap kali melihat mereka, tiap mendengarkan nyanyian mereka, tiap kali berhasil menghafal sebaris lirik mereka, tapi aku nggak bisa berhenti disini dan jangan tambah jatuh lagi. Allah nggak akan suka ini, Dia nggak akan suka gimana aku melewatkan menit-menit menemuinya karena rasa gandrungku pada empat cowok australia itu memalingkan rasa cintaku pada-Nya.

Ini nggak baik untuk jiwaku. Tapi aku seperti nggak bisa menemukan jalan buat keluar dari semua ini. Melupakan mereka nggak akan semudah yang kebayang, akan lebih mudah kalau aku nggak pernah mengenal mereka. Tapi aku terus membayangkan hidupku tanpa warna kalau tidak mengenal mereka. See? Betapa jauhnya aku dari Dia.

Hati ini sudah terlanjur cinta. Seharusnya aku nggak mendengarkan album baru mereka. Aku sudah berjalan jauh dari mereka, tapi album baru mereka berhasil mengantarku putar balik dan kembali ke pangkuan musik mereka. Aku saja yang lemah. Melawan diriku sendiri saja nggak mampu apalagi menghadapi dunia yang penuh ujian dan cobaan ini.

Aku ingin berhenti disini, sebelum semuanya jadi lebih buruk. Tapi kenapa sulit sekali melawan diriku. Harus kutemukan perisai macam apa lagi biar hatiku yang lembek ini terlindung dari muka Calum Hood yang terus terbayang. It is insane, gimana aku bisa seakan-akan jatuh cinta sama cowok ini. Aku bahkan nggak kenal dia kecuali dari layar youtube. Ini konyol dan sulit dipercaya. Sementara aku kelimpungan menepis perasaan naksir ke manusia yang nyata beberapa meter di hadapanku, aku justru gila karena melihat kesempurnaan dalam diri Cal.

Akan kupaksa kalau memang segalanya harus dimulai dengan paksaan. Sebentarlagi aku 21, dan sampai kapan akan jadi fangirl? Apa yang membanggakan kalau suatu ketika nanti anak-anakku punya ibu seorang fangirl. Aku nggak mau seperti itu. Aku ngelantur karena sering diledek kapan nikah. Sometimes, itu membuatku berada dalam situasi penuh tekanan.

Nggak ada yang menyuruhku cepetan nikah, bahkan orangtuaku nggak akan mendukungku nikah muda. Tapi teman-teman bisa lihat, kawanku disini sebagian sudah pada nikah. Beberapa malah sudah punya anak. Sebagaimana normalnya, aku punya perasaan "Enak kali ya, kalo nikah sekarang, mumpung masih muda." Aku juga punya pikiran pengen nikah muda. Tapi aku tahu aku belum siap, jasmani dan rohani.

Aku bahkan belum becus mengurus diriku, gimana bisa aku punya suami dan anak dalam kondisi seperti sekarang. Terus-terusan merasa seluruh dunia nggak menginginkanku, berkali-kali jatuh dan sembuh dari hampir depresi. Aku yang begini masih sangat belum pantas untuk siapapun. Seindah apapun yang aku impikan, seindah apapun yang aku rencanakan, di sana ada Yang Maha Mengetahui mana yang kubutuhkan lebih dari yang sangat kuinginkan.

Seharusnya aku sibuk memperbaiki diri, bukannya sibuk fangirling. Kadang fangirling adalah pelarian paling manis yang aku tahu, tapi disitu aku nggak menemukan apapun kecuali kesenangan semu dan hampa menganga setelahnya. Aku kan punya Allah, kita kan punya Allah. Lalu kenapa aku lari ke Cal dan teman-temannya ketika kurasa pundakku hampir patah menopang dunia dan segenap tekanannya. Ketika yang bisa kulakukan hanyalah menangis dan menangis, disitulah Allah memelukku dalam kalimat istighfar yang kuucapkan.

Disaat aku ingin dianggap ada, dihargai sebagaimana layaknya manusia, tapi yang kudapat adalah diperlakukan seolah hawa keberadaanku setipis jaring laba-laba, kenapa aku memilih menuliskan setiap perasaan tidak terimaku ketimbang lari kepelukan-Nya? Padahal Dia yang selalu menganggapku ada, selalu lebih dekat dari yang paling dekat di hati, tapi selalu aku yang menjauh dari-Nya, selalu aku yang pergi sambil menyalahkan segalanya.

Tapi apa salahnya terlahir salah? Apa salahnya jadi fangirl? Apa salahnya hidup sebagai aku? Kenapa begitu sulit memaafkan diriku yang tidak mau berlari kepelukan-Nya lebih awal? Kenapa sangat sulit memaafkan mereka yang tidak menganggapku manusia? Apa karena aku cuma manusia biasa? Apa semua orang juga mengalami perasaan seterluka ini? Aku seharusnya memaafkan diriku yang terlahir salah ini, diriku tidak bisa memilih akan terlahir seperti apa, kan? Diriku kadang juga nggak tahu bagaimana menentukan jalan yang benar dan Allah ridhai, aku seharusnya memaafkan diriku yang bagai sebatang kara mengarungi lautan dewasa dan mendukung diriku sampai kapanpun daripada terus-terusan kecewa karena sosial disini seperti nggak bisa menerima jenis sepertiku.

9818

Komentar