Kembali Lagi

Berubah itu sulit. Apalagi berubah jadi lebih baik. Kebiasaan buruk yang sudah kadung mengakar ternyata bisa sesulit ini dibasmi.

Tapi seandainya bisa kembali ke tempat pertama aku mengenal mereka, kupikir aku  tetap nggak akan menolak untuk jatuh cinta, aku tetap akan menjatuhkan diri pada lubang yang sama sekalipun aku punya pilihan untuk tidak terjatuh.

Bagaimana aku tahu seperti apa yang dinamakan jatuh cinta kalau takdir tidak membawaku pada mengenal mereka? Lewat merekalah, aku tahu cinta memang benar seperti sungai yang mengalir satu arus, nggak peduli mereka tahu apa enggak, nggak peduli meskipun mereka nggak pernah mengenalku, asalkan aku tahu perasaanku ke mereka, asalkan aku tahu siapa mereka, jatuuh cintaku tanpa rasa kecewa. Karena mereka aku mengenal mencintai yang tidak mengharap balasan.
Beda dengan ketika jatuh cinta pada seseorang di sini, yang aku tahu cuma kecewa dan kecewa. Semata-mata karena aku terlalu berharap mereka juga memiliki perasaan yang sama sepertiku.

Beberapa hari ini aku fangirling lagi, aku menghianati diriku lagi. Ketika sudah melihat mereka berempat, dalam bahasa yang nggak begitu kumengertipun aku nggak bisa untuk enggak jatuh cinta sekali lagi.

https://id.pinterest.com/pin/435934438927322153/
"Youngblood, say you want me, say you want me, out of your life, and i'm just a dead man walking tonight."

 Aku nggak tahu semua ini bisa begitu adiktif. Melepaskan diri dari betapa adorable-nya Calum, dari betapa cool-nya Luke, dari karismanya Ashton, dan dari magnetnya Mike ternyata bisa sesulit ini. Dengan menghapus semua gambar mereka di hapeku, dan berhenti mendengarkan musik mereka, kupikir waktu akan membantuku menuju jalan yang lebih Allah sukai. Ternyata bentengku runtuh begitu telinga ini mendengar kata demi kata dalam Babylon yang penuh dengan suara Calum favoritku. Dentum demi dentuman bass Calum terasa sangat, apa ya, aku tidak tahu apakah amazing akan jadi kata yang tepat tapi, ya, that was sounds so amazing.

Kemudian ini,
beberapa baris dalam Lie To Me ini terngiang terus, kuulangi terus menerus selama beberapa jam kebelakang. Sangat sulit untuk tidak mengingat bagaimana merdunya Luke Hemmings bernyanyi.

Bagaimana bisa aku lupakan mereka, sementara yang ada ketika sedihku adalah denang nyanyian mereka? Ketika yang nyata di sini terkadang hanya tahu memberikan luka, mereka yang terhalang rupa-rupa halangan malah menemaniku, membuatku tersenyum bahkan tertawa disaat hatiku sangat berantakan. Aku seharusnya berterimakasih.

Mungkin aku sudah nggak ada di sini kalau masa-masa mendung dan kelabuku hanya kulalui sendirian. Mereka ada meskipun mereka nggak tepat di sisiku, mereka menemani lewat bait-bait dan nyanyian mereka, dan itu lebih dari cukup. Mereka menolongku meskipun mereka mungkin nggak akan tahu itu. Aku sayang mereka.

Mereka yang menolongku dari terpuruk dan terluka. Allah yang menolongku, mungkin memang lewat mereka. Aku bersyukur untuk ini. Lagu mereka yang mengerti perasaanku ketika seluruh dunia nggak mengerti. Lagu mereka yang jadi pemandu sorak untuk hati kelabuku. 

Mau nggak mau, suka nggak suka, aku memang harus berhenti dari semua ini. Dan aku memang akan berhenti, tapi aku nggak akan melupakan Calum, Mike, Ashton dan Luke. Merekalah figur persahabatan termanis yang aku tahu. Dalam hidupku, satu hal yang aku inginkan adalah orang-orang seperti mereka sebagai sahabatku.

4818 | 11:39 PM

Komentar