Sunrise

Dingin mengguyur begitu pintu kayu ini kubuka. Hembusan udara pukul setengah lima pagi mengejutkanku. Dunia masih gelap dan aku melangkahkan kedua kaki yang terbungkus kaos. Berjalan pelan, sepelan mungkin supaya langkah kakiku tetap bisu dan jangan sampai mengganggu jiwa-jiwa yang masih berselimut.

Tak tertahankan. Dua kata itu yang menemaniku duduk di teras orang, menunggu jemputan untuk ke pasar pagi. Sepagi ini? Ya. Apa boleh buat. Aku buruk sekali karena memaksa diriku berkendara sepeda motor menembus udara yang sedingin ini. Bahkan bintang-bintang tidak mampu mengesankanku dengan barisan menawan tapi tidak rapi yang mereka buat. Dingin ini tetap yang terkuat.

Aku memeluk kedua kakiku seeratnya. Berharap sekilas kehangatan menghampiri, tapi sia-sia. Sebab sepertinya tulang-tulangku sudah membeku sekarang. Bertahan sedikit lagi saja dan aku benar-benar akan beku, tapi jemputanku sudah datang.

Jangan pernah berpikir tentang kekasih atau hal semacam itu karena aku tidak memilikinya. Dia bosku, yang menjemputku demi membantunya berjualan di pasar setan yang segera sepi begitu sinar matahari mulai menyebar. Sesekali aku berharap sang spesial yang menjemput, tapi selalu bosku atau aku berangkat sendiri menumpang pick up rombongan pedagang engsel.

Pasar ini akan jadi pasar malam seandainya ada komedi putar dan permen kapas. Sayang sekali hanya ada kesibukan orang-orang dengan aktifitas jual beli. Dari yang hanya menjual sayur sampai yang menjual ayam dan buah-buahan bahkan toko pertanian sudah buka sepagi ini. Mengherankan.

Aneh sejujurnya, tentu saja ini adalah sebuah budaya, keunikan daerah yang harus tetap lestari. Kalau semua orang berpola pikir sepertiku, aku yakin pasar pagi ini sudah tidak akan berumur panjang. Dan syukurlah, disini mungkin akulah satu-satunya yang pernah berpikir bahwa pasar ini adalah sebuah kegilaan.

Begitu jam menunjuk pukul sembilan, toko grosir tempat kerjaku seketika lengang, padahal tadi kesibukan yang menyebalkan sekali menderaku habis-habisan. Para pelanggan yang semuanya minta di dahulukan, yang semuanya minta dilayani dengan cepat, yang hampir semuanya menguras hati, membuatku untuk sejenak berada pada kondisi paling frustasi. Kurasa aku hampir gila berada ditengah-tengah mereka dan berusaha melakukan semuanya sebaik mungkin sekuat tenaga.

Lalu dia datang seperti biasanya. Gaya dandy dan rapi khas dirinya selalu mengusik seluruh organ dalam tubuhku, jantungku yang mendadak brutal memacu aliran darah yang bagai sungai tempat mengarungi jeram, hati yang gemetar tak karuan serta seluruh nyali yang tetiba hanyut, aku sungguh-sungguh akan segera menjadi edan.

Dan bosku akan mulai dengan celotehannya yang mengesalkan. Tentang bagaimana dia membuat laki-laki itu harus bertingkah seramah itu padaku. Melihatnya hanya akan membuatku makin tak sehat. Yang aku tahu dia orang baik dari caranya bersikap dan dari kalimat demi kalimatnya yang tak sekalipun membuatku memproduksi ion negatif, meskipun aku tidak pernah nyaman dengan sikapnya.

Kali ini bosku dan dia mementaskan kelanjutan drama minggu lalu, soal tukar menukar nomor ponsel. Dan aku sungguhan sudah gila sekarang. Mana bisa aku menyimpan nomornya dan membiarkannya menyimpan milikku? Aku bisa tambah gila nanti.

Aku tahu, aku tahu semua ini benar-benar hanya candaan yang mereka buat. Aku akan bisa menerimanya asal jangan libatkan hatiku untuk menghadapi perkara asmara yang selalu mati-matian aku hindari. Mungkin aku memang sok suci, tapi mereka tidak tahu sebanyak apa aku kecewa pada diriku hingga tak akan ada alasan memberi peluang diriku untuk mengecewakan seseorang.

Aku benar-benar tidaklah sebaik yang orang-orang lihat. Akulah seburuk-buruknya makhluk sosial. Aku tidak suka karena perihal pasangan selalu mengingatkanku pada betapa rongga dalam diriku semakin hari makin hampa. Komponen dalam diriku adalah 1/3 kebaikan dan sisanya keburukan. Mulai dari rupaku yang tampak jelas tak ada kebaikan disana, lalu sikapku yang buruk pada semua orang, dan hatiku yang paling hitam dan jahat ini, semua kebaikan yang tampak hanyalah fatamorgana yang nampak di kegersangan gurun pasir.

Dan mengetahui bahwa orang berpikir aku ini makhluk baik-baik hanya akan membunuhku pelan-pelan.

Sejujurnya tidak ada alasan tidak tertarik padanya, tapi melihatnya tampan dan sempurna selalu terasa menakutkan. Pada akhirnya bermain-main dengan hati dan perasaan hanya akan membuatku sampai pada titik dimana aku merasa akulah yang terburuk didunia.

Disaat seperti ini seharusnya aku ingin ngobrol dengan seseorang dan didengarkan, tapi disini tak ada siapapun yang bisa mendengarkan dan hanya mendengarkanku saja. Kadang aku lelah selalu hanya mendengarkan, egois memang.

Aku seperti ini padahal ada Allah yang sudah tahu semua cerita ini dan masih setia mendengarkan, Dia mendengarnya padahal aku hanya membatinkan dan menulisnya disini. Aku seharusnya tidak boleh lupa itu.

280718

Komentar