Akulah Mawar Yang Cemburu Pada Bunga Sepatu

Dosakah aku
Bila ragu
Pada takdirMu?

Jam-jam berdetak maju, hari-hari maju berganti, minggu dan bulan ganti berlalu, tahun-tahun lalu berdebu, waktulah tebas pedang yang takkan terulang.

Hampir nangis baca kisahnya seorang teman yang baru jadi ibu. Bayangkan soal betapa lengkapnya seorang perempuan ketika sudah jadi ibu. Seolah anaklah seluruh alasan untuk segala upaya, anaklah dunianya.

Kakak sepupuku juga baru melahirkan anak ke duanya. Beberapa teman yang lain juga baru jadi ibu. Bayangkan betapa sedihnya perempuan-perempuan yang belum Allah percayakan mengemban amanah menggemaskan berupa bayi. Ada juga yang sudah Allah percayakan tapi justru terbebani dan memilih melakukan hal bodoh yang sangat nggak manusia.

Segitu imbangnya hidup.

Aku yang masih jomblo gini mah bisa apa kalau bukan berusaha sabar. Harus terus percaya bahwa Allah punya rencana indahnya. Harus terus berprasangka yang baik biar disayang Allah. Seenggak mudah apapun itu, seberat apapun badai yang Allah terpakan, Dia-lah sumber segala kekuatan di hati ini.

Sayangnya masa depan bukan hal yang kita tahu sejak hari ini. Itu misteri meskipun kebaikannya bisa diusahakan dari sekarang.

Aku nggak tahu pasti kepala ini memusingkan apa, nggak ngerti apa yang memenuhinya tiap hari sampai body jadi selangsing ini. Aku bersyukur badanku sekarang kecil, tapi aku nggak bisa terima kalau itu berkat setres.

Ketika aku cuma suka melihat keatas dan malas menunduk, semuanya makin buruk. Aku cuma bisa merasa akulah yang paling malang sedunia. Akulah yang paling menyedihkan. Padahal Allah memberiku semua ini, segala yang kubutuhkan. Dan yang kulakukan tiap hari adalah menambah dan menambah dosa.

Aku coba memperbaiki diri, tapi sulit lepas dari rasa ingin dipuji. Aku kebanyakan mendengar omongan orang. Terlalu sibuk peduli pada topeng-topeng yang orang dewasa pasang natural di wajah mereka. Jiwaku gersang kering dan kerontang. Hatiku kosong mlompong. Aku hanya peduli pada betapa beruntungnya mereka yang bisa jadi anak berguna buat orang tuanya tapi nggak mencoba jadi berguna. Aku cuma melihat mereka yang Allah mudahkan jodohnya, tapi nggak melakukan apa-apa buat memperbaiki bobrok diri. Aku cuma iri dan sangat iri pada para perempuan yang sudah Allah anugerahkan mengalami momen paling dramatis dalam hidup, yaitu menjadi seorang ibu.

Yang aku lakukan adalah menyesal dan menyesali terus.

Apa yang sebetulnya harus aku lakukan?

Komentar