The Love I Need.

Aku manusia ceroboh,
Tidak pandai mengelola diri apalagi mengendalikan emosi,
Meskipun aku ahli menyembunyikan perasaanku,
Ada saat aku mendewakan kemarahan, memujanya, menjunjungnya tinggi-tinggi, menempatkannya dalam kekosongan hati,
Aku menyadarinya tapi masih belum mampu menguasai amarah itu.
Lewat kehausan yang sangat,
Setelah melewati penyangkalan habis-habisan,
Aku ingin kembali pada-Nya.

Ribuan kali aku mengumpat, meski bukan mulutku jangan pikir hati ini sesuci sampulnya, aku mengumpat atas takdirNya, karuniaNya, bahkan rezekiNya. Hatiku kotor sekali Ya Allah.

Aku melalui semuanya dan bertahan hingga sekarang, karena Dia setia membimbingku. Kalau Dia sampai meninggalkanku, entah akan apa jadinya aku.

Selama ini, dengan sia-sia, cinta yang selalu aku harapkan, aku tuliskan, aku impikan, bahkan aku minta padaNya adalah cinta paling dangkal dan sia-sia. Aku hanya ingin tahu karena teman-temanku, kebanyakan dari mereka berpengalaman dalam cinta pada lawan jenisnya. Dan aku hanya cupu yang tahu cinta mereka dari cerita, film, dan buku yang menggambarkan betapa indahnya "Aku cinta padamu, maukah kau menjadi kekasihku?" itu.

Menurut yang sudah kupelajari ketika pak guru membahas soal tanda-tanda pubertas pada laki-laki dan perempuan ketika kelas 6 SD dulu, saling tertarik antara laki-laki dan perempuan adalah salah satu cirinya. Artinya itu normal, sesuai yang Allah katakan bahwa Dia menciptakan kita berpasang-pasangan. Tapi selama ini, aku tidak pernah tahu bahwa kisah berbalut segala manis dan indah bernama pacaran itu ternyata tidak disukai oleh Allah.

Maaf, aku tahu tapi aku mengabaikannya. Hanya karena seolah semua orang disini melakukannya. Hingga rasanya akulah satu-satunya yang abnormal karena tidak pernah sekalipun dekat atau didekati seseorang. Bahkan aku pernah membaca, tidak pernah pacaran hingga usia 20an berarti bukti kegagalan seseorang dalam bersosialisasi.

Dan Ya Allah, itu membuatku bimbang.

Aku sadar, aku payah dalam berteman, aku bodoh beradaptasi, aku dibawah rata-rata dalam hal berorganisasi dan komunikasi. Diringkas dengan, sosialku lemah nyaris nol. Jika dikatakan gagal bersosialisasipun itu tidak salah.

Tapi itu hanya membuatku mengasihani diri sendiri. Membuat imanku kendor dan semakin mengendor. Padahal aku sudah mustahil disebut remaja, remaja dewasa lah minimal, tapi aku masih selabil ini.

Begitu banyak yang tidak kutahu, saking banyaknya yang aku tahu jadi hanya satu kata : BINGUNG.

Dunia ini begitu luas, terlalu luas hingga aku kesulitan mengenalnya. Aku begitu penasaran pada belahan bumi yang sedang siang ketika hariku gelap karena malam, dan disana sedang terlelap ketika aku sibuk mengarungi kehidupan menuju dewasa. Sampai akhirnya aku berjumpa dengan keindahan yang belum pernah kukenal sebelumnya, yang membuatku jatuh cinta sedalam-dalamnya, itulah musik dan musisinya serta para penyanyinya. Betapa banyak musik yang kukonsumsi, berapa baris lirik yang kuhafal, berpetualang dari satu genre ke genre lainnya, dari seorang penyanyi ke grup band lainnya, jatuh cinta lalu lupa karena melihat yang baru dan jatuh cinta lagi, tiap hari menggila pada lagu-lagu baru yang mereka ciptakan tanpa henti. Terus berulang, berputar-putar dalam lingkaran setan. Cinta semu lagi.

Sungguh hari-hari itu tak terlupakan, menghafal kata demi kata dalam syair yang menghipnotis itu, menikmatinya, mendendangkan dengan riang, menari sealun dengan iramanya, sampai lupa diri. Sampai hal bernama musik itu sungguh-sungguh membelenggu, semakin menyenangkan semakin aku terperangkap pada rutinitas bangun tidur dengan musik mengawali hari dengan berdendang, menjalani hari dengan sepotong atau dua bait, ditidurkan oleh musik lewat kelembutan dekapannya, menghabiskan sisa hari dengan musik, lalu bangun oleh musik lagi dan semuanya terus berulang. Gila.

Betapa jauhnya aku dariMu...

Mengapa otakku baru bisa memikirkan bahwa cinta yang kubutuhkan adalah cinta dari-Nya bukan cinta-cinta yang selama ini penuh di dada. Bukan cinta-cinta yang selalu saja kuharapkan dari laki-laki yang menarik hatiku. Benar, aku yang terlalu mudah tertarik, terlalu gampang menaruh hati.

Harusnya aku berpegang seteguhnya pada istighfar.

Komentar