Rumput Liar

Karena adikku sungguh-sungguh mandi di tengah hari yang bolong, maka aku bersantai sehabis mengisi perutku dengan gundukan nasi dan lauk memenuhi piring yang diberi sebutan 'gunung semeru' oleh ibuku. Berebut remote televisi karena ibuku ingin menonton si anak indigo itu sementara aku lebih tertarik pada kehidupan bawah laut di kota bikini bottom.

Aku sangat santai dan akhirnya lupa waktu.

Menjelang adzan asar sekitar pukul tiga entah kurang berapa, aku teringat pada sepotong kaktus kecil yang kutemukan hidup terlunta-lunta di tengah negeri antah berantah yang belum selesai kubereskan. Aku menaruh si kaktus kecil di atas kandang ayam yang sudah tak terpakai, bersama dengan anakan tanaman hias berdaun ungu dan satu apotek hidup yang keduanya tak kuketahui identitasnya.

Aku jadi terpikir mencarikan mereka tempat tinggal. Pot bunga, tentu saja aku sedang mengidamkannya. Tapi membeli pot bunga atau membeli apapun tidak ada dalam daftar rangkaian kegiatan berkebunku.

Sampai aku menemukan sebuah bungkul—tempat gulungan benang—benang obras tergeletak tak berguna. Sementara diatas meja gelas-gelas plastik bekas air mineral berserakan. Jadi aku mengambil kedua bahan yang kuperlukan. Ditambah dengan beberapa alat seperti pisau dan gunting lalu solder untuk melubangi bagian bawah gelas plastiknya. Kupotong bungkul benang berbetuk mirip kerucut yang seukuran lenganku itu menjadi dua bagian, kuambil bagian yang lebih besar lalu kuisi dengan gelas plastik yang sudah berlubang dibawahnya dan sudah kubereskan bagian atasnya.

Tinggal kuisi dengan tanah dan beberapa batu agar permukaannya tampak cantik lalu si kecil kaktus sudah bisa kutanam.

Tinggal dua tanaman yang tak kuketahui namanya, aku menyiapkan toples kecil bekas sosis siap makan yang ibuku daoat dari warung langganan, dan satu kotak bekas wadah sarung yang terbuat dari plastik. Kuisi dengan tanah dan si daun ungu sudah berada di toples sosis sementara si hijau berumbi kutanam di kotak sarung berwarna hitam. Lalu mereka kuletakkan diatas kandang ayam yang sudah tidak digunakan.

Aku sedang mengambil air untuk menyirami mereka tapi aku melihat seikat seledri dengan daun menguning yang seolah berkata aku sudah mau busuk berbaring di pinggir sumur. Kasihan, jadi kuambil mereka, kubuang ikatan yang dari batang bambu itu, lalu jalinan mereka kuurai satu per satu. Daun yang kuning kubuang agar tidak membebani si seledri, kusisakan beberapa batang dan tunasnya yang masih sangat muda ditengahnya. Sehingga aku berpikir untuk mencarikan mereka rumah.

Dan sebuah cething plastik tampak cocok untuk mereka. Kulakukan hal yang sama dengan sebelumnya, mengisinya dengan tanah, lalu membiarkan seledri-seledri malang itu mendiaminya. Nyatanya cething itu tidak cukup menampung mereka semua. Jadi sisanya kutanam di petak tanah dekat tanaman labu siam yang merambati pohon singkong yang tampak bungkuk karena keberatan. Para seledri kubuat berbaris tiga bersap dengan dua lajur lembah diantara tiga sap-nya.

Ketika kurasa hari bertambah sore, bahkan aku sampai lupa mendengar adzan asar, kuselesaikan dengan cepat pekerjaan menyirami tanah kering yang tak disentuh hujan selama beberapa hari lamanya.

Jadi aku bisa meninggalkan mereka dengan tenang dan pergi mandi karena punggung, kaki, dan tanganku mulai megaduh gatal dan meminta jari-jari tanganku segera menggaruk. Aku pulang dengan badan kotor dan capek, dan juga gatal, tapi aku bersyukur karena tidak bertemu ulat bulu.

—tbc.

Komentar