Pot Bunga

Pagi hari yang secerah biasanya, diguyur sinar mentari keemasan dan aman dalam lindungan langit biru cerah serta gumpalan lamuk putih bersihnya. Sudah lama aku tidak kerja sekeras ini, dan tubuhku tidak bisa mentolerirnya. Untung saja tamu bulananku sedang mampir, kalau tidak aku jelas kesiangan shalat subuh.

Setelah membasmi piring-piring kotor yang berserakan, rencananya aku mau kembali ke kebun dan melanjutkan cabut mencabut rumput, tapi kata ibuku ayam yang baru dibawa kakakku dari tempat mertuanya kabur dari kurungan, dua-duanya. Bisa dipastikan mereka pasti mengacau dikebun. Aku hanya berharap Allah melindungi tanaman seledri dan peterseli yang kusayangi.

Tapi ketika sepasang ayam jantan betina itu berhasil disatukan lagi dalam kurungan, tanaman seledriku bernasib buruk, mereka berserakan, acak-acakan, akar mereka yang baru kutanam kemarin sore tentu saja belum menyatu dengan tanah. Mereka tercabut dari tanah. Mengesalkan. Yang lebih mengesalkan lagi adalah beberapa apotek hidup yang berharga dan sepohon peterseli di ujung utara tampak rubuh dengan jejak sandal orang dewasa disekitarnya. Buruk sekali.

Aku harus mereka ulang tanaman seledrinya dan memberdirikan lagi tanaman yang rubuh karena puting beliung, untung saja tidak lebih buruk dari puting beliung walaupun tetap saja mengesalkan. Beberapa seledri aku pindahkan ke bagian selatan yang longgar, kubuat lebih rapi dan berjarak dari sebelumnya.

Lalu aku mulai lagi dengan cabut mencabut rumput bersama si sabit. Ada bagian yang terlewat di tengah-tengah petakan tanah itu. Rumput liarnya tinggi-tinggi dan banyak. Aku melewatkannya kemarin. Malahan beberapa tanaman salak kecil bergerombol juga disana. Durinya menyapa jariku beberapa kali. Ditambah dengan satu ekor binatang tak bertulang mirip ulat namun tak berbulu sebesar kacang panjang tapi lebih pendek, tampak menggeliat panik karena tanah diatasnya kusibak. Yang parah lagi, dia terkena sabitku ketika kucoba memindahkannya. Ya ampun, buruk sekali. Aku merasakan takut itu sekali lagi hanya dengan mengingatnya.

Jadi aku putuskan melakukannya dengan cepat. Tidak tahan berada sedekat itu dengannya, aku merasa bersalah.

Aku berpindah ke sebelah barat yang masih rimbun dan subur rumputan liarnya. Yang tampak sedikit menakutkan dengan pemandangan daun-daun bolongnya. Mau tidak mau aku jadi berpikir di sebelah sana lebih banyak ulatnya daripada di sebelah timur. Aku masih tidak bisa tenang kalau harus berhadapan dengan ulat, apalagi yang berbulu. Pundakku harus naik turun dengan cepat berkali-kali guna membuat visualisasi bergidik ngeri.

Tapi onggokan bambu beserta daunnya yang bekas dipotong menggangguku karena diletakkan begitu saja. Tak beraturan, dengan ranting mencuat kemana-mana. Aku merasa harus merapikan mereka.

Dengan gerakan sedikit labil, karena berulang kali pindah dari mencabut rumput ke memotongi si ranting bambu lalu mencabut lagi, dan panik karena ada tanaman berbatang lunak yang didiami banyak ulat berbulu yang membuat merinding, lalu memotongi ranting lagi dengan sabit. Sampai aku memutuskan untuk memotongi ranting-ranting itu sampai habis dulu. Sehingga daunnya terkumpul, meggunung setinggi betisku dan tampak menggiurkan minta segera disulut api.

Kukeluarkan korek gas dari saku celanaku dan mulai membakar. Ternyata tak semudah yang kukira. Daun-daun bambu yang kering memang terbakar dengan segera, tapi daun yang lain tidak semudah itu. Harus berkali-kali apinya nyala dan padam sampai aku kewalahan dan hampir menyerah. Kalau saja tidak teringat pada gengsiku ke ibu yang sejak tadi sudah memberi julukan tukang sate karena aku terus mengipas supaya bara apinya tidak mati, sudah kusiram mereka dengan air.

Tapi berkat rasa gengsi pada ibu, aku jadi tidak menyerah. Kutata dengan benar gundukan itu, kuperbanyak daun keringanya, kutambah dengan beberapa sampah plastik, kutiup sekuat tenaga bahkan sampai diserang pusing kepala, demi apinya berhasil menyala, melalap habis daun bambu keringnya. Melihatnya berkobar, merasakan pedih dimata karena asap yang menerpa, meresapi panas yang memancar ke sekujur badan, rasanya memuaskan. Meskipun aku sadar aku pasti sangat buruk rupa saat ini.

Adikku tidak mau lagi ketika tadi kuajak berkebun. Dia pasti kelelahan dan gatal-gatal sepertiku. Tapi ini terapi jiwa juga kan? No, terapi melepaskan diri dari smartphone lebih tepatnya. Aku tidak suka dengan kenyataan aku yang sulit lepas dari smartphone. Sepanjang hari dari bangun sampai tidur lagi sebagian waktuku habis untuk smartphone. Persis seperti sekarang ketika aku mengetik semua ini. Entah berapa menit sudah kuhabiskan.

Aku istirahat dan makan banyak beberapa saat setelah adzan dzuhur berkumandang. Seperti biasa menidurkan punggungku di kasur kapuk depan televisi. Sambil bicara ngalor ngidul dengan siapa saja yang ada disana.

Tapi aku mulai lagi begitu jam hampir menunjuk angka tiga dengan jarum pendeknya. Mulai membakar lagi. Kali ini gundukan yang lebih besar yang adikku buat kemarin dan belum sempat dia bumi hanguskan. Sialnya, rumputnya sebetulnya lebih hijau dari yang tadi, belum cukup kering juga dan berakhir lebih sulit dibakar.

Adikku keluar dari tempurungnya, melihatku kesulitan, dia kusuruh mengambil semprong dari rumah. Dan kejutannya dia juga membawa batok kelapa untuk pemicu apinya. Anak pintar. Hanya saja, aku pasti bertanya kenapa dia tidak bawa minyak tanah sekalian, kalau aku tidak ingat sekarang minyak tanah langka dan tidak ada dirumahku.

Aku menyemprong dan menyemprong sehingga apinya terus berkobar. Tapi kebanyakan menyemprong membuatku pusing sekali. Aku hampir saja berbaring di jalan setapak ini, kalau saja tidak melihat sepeda motor melaju dari selatan. Membawa sepupuku dan temannya yang mereka berdua berdandan cantik karena mau jalan-jalan. Sepupuku menertawakan kami yang mandi abu pembakaran rumput. Hahaha, di rambut, di baju, dimana-mana.

Langit mulai menggelap, pertanda sudah makin sore. Aku sadar aku sudah sangat kotor dan bau asap pembakaran. Kupikir aku butuh mandi kalau ingin menghabiskan sisa hari dengan tenang. Tapi aku salah, setelah mandipun gatal masih terasa dimana-mana. Dikedua kakiku yang kini dibalur minyak kayu putih. Dipunggung, bahkan diperutku. Gatal kurasakan di mana-mana.

Lalu bagaimana aku bisa jadi petani kalau begini caranya?

—the end.

Komentar