Kusebut Ini ; rednotes.

Saat datang bulan adalah hari-hari paling emosional dalam hidup perempuan—ya kalau ternyata nggak seluas itu, seenggaknya dalam hidupku lah.

Ada kondisi dimana pikiran dan tindakan jalan sendiri-sendiri. Bahkan mereka ninggalin pemiliknya, ngebiarin pemiliknya terombang ambing rasa senang, galau, sedih, marah, cuek, egois, peduli dan semuanya—apapun itu—silih berganti macam iklan di tv, mencampur dan mengaduk-aduk hati.

"Kamu harus nerima, ada seseorang yang nggak menginginkanmu dikehidupannya, mereka nggak cinta sama kamu seperti perasaanmu ke dia."

Itu yang aku kutip dari cuitan sebuah akun curcol yang aku follow. Pas bingit sama aku sekarang. Perutku melilit macam dipelintir kayak waktu meres cucian. Kepalaku masih sekacau semalem. Hatiku, jangan ditanya. Aku berusaha meyakinkan diriku untuk banyak hal.

Aku berusaha nerima kalau seseorang memang nggak ingin aku ada dikehidupannya, tapi aku bisa apa, coba kalau aku tahu lebih awal, aku bisa melangkah mundur biar aku jangan jadi bagian masa kecilnya yang berharga itu. I think we're friends, tapi ternyata cuma aku yang mikir begitu. Mana ada berlian secemerlang dirinya bersisian dengan batu kali lumutan semacam diriku. Aku harusnya sadar itu.

Tapi aku ini bodoh, remember?

Dan berhubungan dengan orang yang membuat kita nggak bisa menerima apa adanya diri sendiri terdengar mengerikan, seenggaknya itu yang aku rasain. Aku takut, jangan-jangan aku ini orang yang semacam itu untuk orang disekelilingku. Aku bahkan takut nonton horror, apa yang nggak aku takutin didunia ini coba? Hahaha.

Ketemu kamu aja mungkin aku bakal ketakutan setengah mati, seperti menghadapi hari pertama jadi pelayan toko waktu itu. Dan itu adalah untuk kedua kalinya aku melawan diriku, aku membaik walaupun belum bisa sembuh total. Bertemu orang nggak semenakutkan sebelumnya, bicara ke mereka juga nggak terasa sehorror dulu.

Andai aku punya sayap—eh?
Andai aku punya kesempatan jadi seorang psikiatris maksudnya deng—ini terinspirasi dari it's okay, it's love btw—yang aku inginkan adalah menyembuhkan diriku. Sounds impossible, aku tahu. Kita butuh orang lain, dan itu mutlak. Tapi aku punya alasan yang nggak ingin aku sebutin disini.

Kepalaku kosong lagi sekarang. Perasaan-perasaan datang dan pergi, gonta-ganti kayak acara televisi, tiap detik gambar demi gambar silih berganti dan akulah penonton setia untuk program televisi yang kepalaku buat sendiri.

Itulah kenapa aku suka tidur. Disana aku cuma melihat apa yang nggak nyata tapi membuatku merasa aman. Di sini aku mengalami kenyataan yang membuatku seperti dalam posisi aku bisa mati kapan aja. Dingin, perutku jadi tambah melilit.

Sampai jumpa, selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin, maaf...

Komentar