Fire

Masih terdengar jelas suara sang api mengunyah kayu-kayu, masih melekat di telinga suara sang api melahap daunan kering. Aroma daun kering yang menghitam dilalap api juga masih ada diantara wangi baluran minyak kayu putih di kedua kaki. Mereka gatal-gatal sebab seharian bermain di kebun.

Entah apa yang memanggilku kesana ketika kuputuskan mengambil sabit bapakku dan mulai mencabuti rumput di sekitah tanaman stroberi yang ibu tanam seadanya dengan bungkus minyak goreng isi ulang dan wadah detergen 850 gram. Tanaman dalam polybag yang sejujurnya tak dapat disebut polybag itu ditata dengan gaya bebas, tidak berjajar rapi atau disusun membentuk lingkaran dan semacamnya.

Dimulai dari satu meter dari pintu belakang aku terus maju, rumput liar didepanku nampak melambai-lambai, menggodaku untuk memcabutnya segera. Jadi kedua tanganku dibantu sabit yang kuambil tanpa bilang dulu pada bapak, beraksi dengan brutal, merenggut hidup rumput-rumput liar yang tampaknya mengganggu tanaman peterseli yang kusayangi.

Saat kurasa pekerjaan ini mulai berat, kuputuskan untuk memanggil adikku. Dia memang payah, tapi kupikir untuk hal ini dia akan bermurah hati atas bantuannya. Dan dugaanku tepat, dia mengiyakan tanpa babibu. Kuberikan satu lagi sabit yang tersisa di tempat bapak biasa menaruhnya.

Adikku memang sepayah yang kutahu. Yang dia lakukan adalah membabat rumput-rumput itu.

"Mereka bakal tumbuh lagi kalau nggak dicabut sampai akarnya." Sambil berharap kata-kataku mampu menyampaikan maksudku padanya.

Tapi dia hanya mengiyakan, sementara yang dia lakukan tetap tak berubah. Sungguh tipikal adikku. Aku bertumpu pada harapan yang salah. Jadi kulanjutkan saja pekerjaanku. Mencabut dan mencabut, kucabut semua yang bisa dicabut, sementara si sabit melakukan tugasnya pada beberapa gulma besar yang sudah kuat mengakar.

Diujung barat laut sepetak tanah yang berisi macam-macam tanaman yang seperti sebelumnya ditanam dengan gaya bebas—sehingga aku tahu siapa yang menanamnya—aku menemukan serumpun rumput tinggi yang mempesona. Jenis rumput beraroma wangi dan tentu saja tidak tergolong dalam rumput liar pengganggu. Itulah tanaman sereh—di sini disebut kamijara. Untuk sejenak aku terpana, kucium harumnya yang melekat di jari-jari sisa dari tak sengaja hampir mencabutnya tadi. Dibagian dasarnya daunnya yang kering membuatku terganggu, dalam benakku seolah mereka yang coklat dan kering itu memakan jatah si hijau yang harus terus tumbuh. Jadi aku menyingkirkan mereka dengan kedua tanganku. Aku terus berusaha menyingkirkan daun kering yang masih ikut menggerombol itu. Sampai di sana, dari kegelapan yang sulit dijangkau mataku, sesuatu bergerak-gerak, aku berasumsi itu adalah bulu coklat tua, milik hewan tak bertulang seukuran jempol kaki namun lebih panjang dan sedang menggeliat di sana karena sepertinya aku mengganggu tempat tinggalnya.

Kuperketat pandanganku, dan aku diserang panik. Reflek aku lari meninggalkan rumput-rumput lain yang belum beres kucabuti. Bagaimana bisa aku mau berkebun sementara membayangkannya lagi saja membuatku gatal di mana-mana? Sungguh, aku sedang menggaruk leher belakangku sebelum mengetikkan kalimat keempat ini. Aku pindah ke tempat lain. Yang agak jauh dari gerombol tanaman kamijara yang kini tampak mengerikan meskipun dari kejauhan.

Di dekat petak tanah lain yang lebih kecil kutemukan tanaman peterseli yang kusayangi, lebih banyak dan lebih sehat daripada yang terletak di tengah hiruk pikuk tanaman cabai, singkong dan tanaman apotek hidup yang tidak bisa kuterka itu kunyit, kencur atau jahe karena mencium bau daunnya tidak mengenalkanku pada umbinya. Belum tentu saja.

Adzan dzuhur berkumandang, jadi kuminta adikku berhenti membasmi rumput liar itu dan mulai mengumpulkan rumput-rumput yang telah tercabut. Dia membuat gundukan di dekat rumpun bambu kecil di utara sumur dengan rumput-rumput yang dikumpulkannya. Aku sendiri masih asyik mencabut dan mencabut.

Sampai ibu kami memanggil dan mengingatkan kami supaya istirahat dan shalat. Dan makan tentu saja, bagian ini kami berdua tidak perlu diingatkan. Jadi setelah semuanya terasa tidak apa ditinggalkan, kami beranjak dari kebun tak terawat yang persis berada di utara rumah kami. Membawa serta sebuah sabit di tangan kami masing-masing.

"Aku mau mandi." kata adikku sambil menyeka dahinya yang tidak terlalu berkeringat itu.

Aku juga merasakan hal yang sama dengannya, panas, lelah, tanpa upah. Tapi kalau adikku mandi sekarang juga, artinya dia tidak ingin kembali lagi ke kebun.

—tbc.

Komentar