Di Perbatasan Mimpi dan Kenyataan

Ketika hidupku sedang nggak begitu baik, ketika aku menjalani hari hanya dengan diam di kamarku menikmati setiap tekanan yang hidup berikan, aku malah selalu dapat mimpi indah ketika tidur. Aku nggak mengerti kenapa bisa begitu.

Semua perubahan yang kelewat tiba-tiba ini membuatku hampir gila. Apa udah gila jangan-jangan. Tapi orang-orang nggak mau ngerti, mereka malah mengetatkan tekanan padaku daripada ngasih kelonggan dan ngebiarin aku sendiri dulu merenungi semuanya. Mereka nggak menerima sikap diamku, menganggap aku marah pada mereka, melontarkan macam-macam kata yang membuat jiwaku tambah sakit. Padahal aku cuma butuh pelukan, dan mereka nggak bisa memberikan hal gratis itu untukku jadi aku memilih sendirian dulu. Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku cuma butuh beberapa waktu buat sendiri.

Berapa kali mereka bilang kecewa dan menyesal memilikiku. Lalu aku pasang earphone di kedua telinga berusaha menemukan ketenangan dari sana. Aku abaikan semua nasehat mereka, setiap kata dari mulut mereka, baik entah buruk, aku lebih suka nggak pernah mendengarnya. Lalu aku merasa jadi durhaka.

Mereka masih belum mengerti semua ini berat kutanggung sendiri. Mereka nggak tau dalam kurun waktu beberapa puluh hari sudah berapa banyak aku ingin mati, entah sudah berapa kali aku katakan pada Tuhan aku ingin kembali keasalku, entah sudah berapa kali aku mohon Dia memberiku jalan untuk pergi kalau masih belum Dia ijinkan mati. Kalau saja aku lebih berani tentu aku sudah nggak disini.

Seenggaknya aku nggak sedang bangun tidur dan berusaha keras mereka ulang apa yang barusan terjadi di alam mimpi. Berulang kali aku curiga, beberapa hari ini mimpi tentang sebuah gedung bertingkat bersekat-sekat dengan barisan kursi dan meja di dalamnya, dan orang-orang. Aku duduk di salah satu ruangan, bangku kedua dari belakang dengan seorang karib yang menyenangkan dan tetangga belakangku yang lucu.

Seorang selebgram favoritku adalah kakak kelasku, entah untuk alasan apa aku dan beberapa orang teman lama piket membersihkan kelasnya. Akulah yang terakhir kali keluar dari kelas para senior itu, dipuji oleh guru yang barusan masuk dengan barisan senior dibelakangnya ruangan ini jadi kinclong kata mereka. Lalu aku keluar dan menuruni tangga, menuju kelasku.

Disana aku ceritakan pada sobat sebangkuku betapa senangnya hatiku. Dan orang di belakangku diam-diam menyimak rupanya. Tak lama, kami bertiga jadi teman baik, tertawa bersama berbuat kekonyolan bertiga.

Aku nggak ingat gimana akhir ceritanya. Aku keburu bangun. Aku nggak pernah sebahagia itu belakangan.

Dalam mimpiku, sering sekali gedung yang sama, dengan beberapa orang yang berbeda, yang seharusnya nggak ada di gedung itu. Kesenangan yang sama memelukku. Seolah berkata aku aman dari jangkauan kenyataan, sambil mendendangkan syair aku akan baik-baik saja bersamanya.

Aku tak pernah berteman sebaik itu di dunia nyata. Aku sangat payah dalam berteman. Aku harap bisa tidur lebih lama. Daripada bangun dan menyesali semua kebahagiaan disana nggak akan pernah jadi nyata.

"Mawar," panggil sebuah suara. "Yuk!" dia mengulurkan tangan.

Dia datang dengan muka rata dan rambut panjang tergerainya. Itu sahabatku. Aku tahu aku harus ikut dengannya dan mendapatkan lagi duniaku yang menyenangkan.

—Tamat—

Komentar