Ponsel Pintar

Aku selalu berpikir tentang betapa buruknya dampak yang smartphone berikan padaku. Tentang aku yang bangun kesiangan karena main hape dulu, aku yang mengulur-ulur waktu ibadah, dan aku yang boros paket data. Untuk semua itu, aku menyalahkan smartphone ini. Telepon pintarku, sahabatku.

Padahal segala keburukan itu datang dariku sendiri. Aku yang buruk, bukan benda tak bernyawa ini.

Ada banyak alasan kenapa benda ini kusebut dengan 'sahabat'. Tulisan ini tidakkan sepenting itu, aku memang selalu membuang waktu dengan menulis tulisan tidak berguna. Hanya karena aku tidak punya kemampuam menyampaikan pikiran. Aku tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk mengungkapkan perasaanku. Tidak ada yang coba memberitahu disaat aku tidak tahu harus bertanya kemana.

Ketika yang bisa kulakukan hanyalah menangis, benda ini menyediakan sesuatu yang bisa membuatku merasa lebih baik.

Saat aku butuh teman curhat, benda ini ada.
Saat aku butuh kekasih, benda inilah kekasih terhebat.
Saat yang kulakukan hanya marah dan marah, benda ini memberikanku jalan sehingga aku merasa aku harus memperbaiki diri.
Saat aku bingung dengan sesuatu, saat didunia ini aku merasa tak ada tempat untuk bertanya, benda ini yang menyediakan banyak jawaban untuk pertanyaanku.
Saat aku merasa buruk, benda ini memberitahuku, bahwa aku bisa lakukan sesuatu dan merasa baikan.
Saat aku merasa begitu tak berguna, benda ini tetap mau bersamaku.

Au tidak tahu akan menceritakan semua ini kemana kalau benda ini tidak ada. Benda ini bahkan memberiku banyak pengetahuan disaat aku tidak tahu mau bertanya kemana. Aku tak tahu bagaimana caranya bertanya pada manusia. Seperti aku tidak pernah yakin dengan diriku.

Sumber gambar

Komentar