Patah Hati

Retak, terus remuk jadi keping-kepingan yang mustahil bisa kembali seperti semula walaupun disatukan pakai perekat terbaik atau paling mahal sedunia. Hati.

Teman-teman pernah patah hati?

Diputus doi? Diselingkuhi? Atau cinta kalian mengalir aja macam aliran air yang selalu dari atas kebawah dan nggak ada balasan dari doi? Sayang sekali hidup kita nggak bisa selalu berakhir bahagia layaknya FTV yang tayang Senin sampai Jumat jam sebelas pagi itu.

Ketahuan banget hobi nonton FTV.

Kalian yang sudah ngungkapin perasaan dan nggak disambut sama doi bahkan lebih beruntung dariku, yang sekagum apapun, sekangen apapun, semua perasaan cuma bisa aku simpan sendiri. Aku yang dari dulu begini aja, adalah bukti kegagalanku bersosialisasi. Betapa mentalku kualitasnya ternyata begitu rendahan, aku bahkan nggak bisa seperti kalian yang bisa bilang "Aku suka kamu." ke orang yang ditaksir.

Bangun di pagi hari dan melangkah ke tempat baru selalu terasa mengerikan, aku nggak pernah ngerti kenapa. Aku bahkan gelisah nggak karuan cuma karena besok harus ke puskesmas lagi buat kontrol jahitan di kaki yang sukses mewujudkan keinginanku buat libur panjang. Padahal aku sudah kontrol dua kali, dan aku tau semuanya nggak akan semengerikan yang otakku pikirkan. Tapi aku tetap ketakutan, tanpa alasan yang jelas.

Sialnya kakiku yang dijahit itu bengkak. Latihan jalan juga ngeri banget rasanya, nyeri juga masih. Tapi semua orang pingin aku cepat sembuh. Because, aku yabg sait ini begitu ngerepotin. Hampir sepuluh hari cuma bisa jalan pakai krug. Nggak bisa ngambil makan sendiri. Aku bahkan baru berani mandi kemarin-kemarin ini, aku baru mandi dua kali sejak kakiku ngajak kenalan kaca riben di jendela depan.

Kakiku aja seketika nyeri keinget hari itu. Petakilan, sok-sokan. Itu mungkin yang ada dipikiran orang-orang. Tapi mereka nggak ngerti apapun soal apa yang aku alami hari itu. Aku bahkan nggak bisa teriak saat seharusnya aku meraung yang kencang. Aku cuma syok dan nggak pernah nyangka itu ternyata kaca. Aku nggak tau. Yang aku tahu pasti ada yang salah disini.

Okelah, cukupin dulu bualan soal kecelakaan bodoh itu. Kembali aja ke topik.

Aku sudah biasa sama perasaan-perasaan yang kusimpan sendiri. Aku sudah bisa nggak sakit hati kalau doi acuh tak acuh, cuek bebek, aku bisa karena terpaksa harus biasa. Lagian bukan salah dia, dia bahkan nggak tau apapun. Jadi sakit ya rasain sendiri, kagen ya rasain sendiri, aku nggak bisa berharap lebih sementara kebisaanku cuma diam dan nyimpen semuanya sendiri. Yang harus aku lakukan adalah ikhlas, lagipula aku nggak cukup baik dan pantas untuk orang sebaik dia.

Tapi belakangan aku sadar, patah hati karena cita-cita yang kandas ternyata jauh lebih sakit daripada semua kasih tak sampai itu. Aku ternyata betul-betul terluka pas apa yang aku impikan ternyata nggak sejalan dengan takdir dan kemampuan.

Bahkan ketika kupikir aku sudah mulai sembuh, ternyata luka itu cuma membaik dan sewaktu-waktu bisa balik jadi buruk lagi. Ini pengaruh obat apa bukan aku sama sekali nggak paham. Tapi beberapa hari ini mood-ku naik turun. Emosiku macam diombang-ambingkan angin topan.

Kemarin itu satu hari rasanya hepiii aja dari pagi sampai sore, hari ini malah sebaliknya mellow mulu. Aku bahkan mewek lagi nonton Laskar Pelangi yang aku sudah tau bagian sedihnya, sudah hafal endingnya. Sakit banget ngeliat Lintang nggak bisa tamat SD karena dia miskin dan yatim piatu. Aku jadi ingat diriku.

Aku bukan yatim piatu, dan nggak semiskin Lintang walaupun nggak bisa dibilang anak orang kaya karena orang tuaku enggak kaya. Tapi cita-citanya yang pupus itu, dekat sekali dengan sisi sensitif dalam diriku. Cita-citaku juga kandas karena masalah biaya. Ditambah aku yang nggak bisa berbuat banyak karena nggak punya banyak koneksi, sebab aku punya sosial yang lemah. Aku buruk sekali dalam berteman, membina hubungan dengan orang lain, hal-hal semacam itu sama sekali bukan keahlianku.

Iri setengah mati rasanya melihat orang-orang yang bisa ramah dan hangat kesiapapun. Kenapa bisa ada orang yang dilahirkan tanpa punya kecanggungan dan ada yang hidup dengan rasa canggung yang selalu nempel dan ngikut kemanapun sepertiku? Cuma dirumah, dikamarku especially, aku bisa melepaskan dia, rasa canggung itu. Dirumah ini semua kepercayaan diriku tumbuh, tapi begitu aku melangkah keluar nggak tau kenapa semuanga layu seketika. Dan jadilah aku yang kaku lagi canggungan itu dihadapan semua orang.

Kenapa aku susah berpikiran positif dan nggak bisa bergaul dengan mudah seperti orang lain sih? Aku selalu butuh jawaban untuk sisi diriku yang susah punya teman ini. Makanya aku sangat menyayangi teman-teman yang kupunya sekarang. Meskipun sekarang mereka jauhnya minta ampun, berpencar-pencar mencari jalannya masing-masing. Seenggaknya kami dulu pernah sedekat cuma dibatasi satu sekatan tembok ketika tidur.

Aku bahagia dan sangat bersyukur untuk masa-masa itu.

Ternyata hidup memang nggak akan mulus-mulus saja meskipun kamu lulus sebagai peringkat dua sejurusan. Nyatanya itu cuma angka di lembaran kertas yang sekarang cuma bisa jadi kenangan. Memori bareng teman-teman bahkan jauh lebih berharga dari selembar itu.

Hidup memang keras dan nggak adil. Akunya aja yang lembek. Pemimpi ulung yang belum bisa bangun dari tidur. Pemikir yang kesulitan keluar dari dalam pikiran sendiri. Aku.

020518

Komentar