Selamat Hari Minggu, deh.

Benci banget sih, kalau habis marah-marah kepalaku sakitnya macam mau pecah. Bersyukurnya kalian yang masih bisa ngumpat pas lagi marah-marahnya. Aku bahkan nggak bisa ngomong apa-apa. Bisaku cuma merusak barang-barang didepanku, melempar mereka sekencangnya biar kena tembok terus bunyi "Prak!" atau "Bum!" yang keras. Mulutku bisu mendadak kalo lagi marah. Sekalinya bisa teriak, dengan sialan langsung kebatuk-batuk nggak jelas.

Masih ada sisa sakit ditenggorokan cuma karena satu teriakan. Sangat nggak enak ketika aku sendiri jadi penjara buat emosi-emosiku. Aku butuh tempat berbagi, makanya aku tulis ini. Aku nggak butuh seseorang untuk membaca ini, aku akan baca lagi sendiri nanti. Aku butuh berekspresi makanya kadang kata-kata puitis itu bermunculan di timeline-ku.

Capek sekali hari ini. Awalnya kupikir postingan blog yang ini bakal berisi betapa kagetnya aku yang lagi sendirian ngebuntelin terigu sambil mikir, seseorang yang lagi libur itu, nggak bakal aku ketemu dia hari ini, lagi ngomong ke Tuhan soal kenapa kemarin dia bahkan nggak ngelakuin sesuatu padahal tau hari ini harusnya aku nggak akan menemukan keritingnya terekam mataku. Aku juga lagi mikir--egh seneng bgt mikir aku sih-- memangnya aku ini siapa.

Tahu-tahu sebuah sepeda motor berhenti didepanan, aku berharap itu dia dan buru-buru menghapus harapan itu di detik berikutnya. Tapi itu betulan dia. Dengan kaus abu-abu yang sama seperti kemarin, yang membuatku berprasangka dia belum mandi sejak kemarin, dipasangkan jeans pendek sewarna bajunya, dan sandal merah yang kurasa asing dilihatnya. Masuk begitu saja, seolah aku ini nggak ada. Dia bilang mau cari makaroni, tanpa dia tahu aku bahkan sudah mulai grogi sejak saat melihat kakinya melangkah masuk. Tapi makaroni yang dia maksud itu nggak ada. Jadi dia nggak jadi beli.

Lihat kan, betapa mengesalkannya dia. Barusan aku sadar, sepertinya aku memang nggak ada artinya buat dia. Aku sering berimajinasi soal beberapa potong percakapan antara aku dengan dia dimana atmosfer kami akrab dan hangat lalu kurasa aku sudah gila.

Beberapa hal membuatku ingin sekaligus nggak ingin membuatnya berada di sisiku. Ingin karena disaat-saat aku emosional begini, kurasa pundaknya bisa kuandalkan. Setidaknya supaya aku nggak lagi memeluk lututku sambil mewek karena itu nggak ada bagus-bagusnya.

Nggak ingin karena dia adalah sosok yang berharga dan nggak pantas berada disini, di duniaku yang seperti ini. Dia berhak untuk dunia yang lebih baik, tentu saja. Dan aku tahu persis itu bukan disini.

Sehingga akhirnya aku lebih baik mengubur diriku dibawah selimut supaya nggak ada lagi acara peluk-peluk lutut sambil mewek. Malu.

Sekalipun aku sangat menginginkan dia, kalau bukan dia yang berkata sendiri dengan segenap hatinya bahwa dia bersedia tinggal di lembah kelabu ini dan menghabiskan sisa hidupnya untuk merubah semua abu-abu ini jadi biru ceria bersamaku, aku nggak akan pernah memintanya untuk itu.

Aku yakin bisa menjalani semuanya tanpa orang ini. Aku punya Allah. Seharusnya cukup aku yang terjerat oleh semua ini, meskipun sejujurnya aku membutuhkan dia. Tapi aku jahat kalau membuatnya harus menjalani kegelapan macam apa yang kujalani. Dan aku nggak mau jadi orang jahat.

Keningku cenat-cenut, ditambah jedag-jedug dan genjrang-genjreng serta teriakan mas-mas yang penuh di gendang telingaku ini, tambah bikin pening, tapi ini bikin aku jadi kalem. Musik-musik yang slow malah nggak ngebantu, mereka bikin yang mellow tambah mellow, yang ngalir di pipi tambah deres, dan yang sedang kacau di dalam sana makin porak-poranda.

Padahal aku butuh segera bangun dari sini, karena aku kepengen pipis. Dan malu lah, keluar kamar dengan tampang begini, sungai kering di masing-masing pipiku ini nggak ada keren-kerennya sama sekali. Gengsiku bisa jatuh tepat di kaki adikku nanti.

Aku percaya cinta, dia nggak akan sesederhana "Aku suka kamu, kamu gimana? Mau nggak jadi pacarku?" Seenggaknya buat kisahku, dia nggak akan bisa segampang itu. Karena aku culun? Bisa jadi.

Sempat curiga sama hari ini sih, tadi aku bahkan nggak merasa marah padahal seharusnya aku marah karena satu hal, mood-ku baik sepanjang hari tadi, ternyata ini jawaban dari segala kecurigaan nggak beralasan itu.

Kepercayaan anak-anak kecil soal, "Kamu mungkin bakal nangis kalau seharian ketawa melulu," itu kok, ada betulnya juga?

15418-Sun

Komentar