Nangis Itu Enggak Apa-apa, Enggak Dosa dan Enggak Melanggar Hukum.

Kadang kala, sesekali, nggak masalah nangis seharian, daripada ditahan jatohnya marah-marah kesemua orang, bikin orang-orang kzl, kalo dibawa nangis kan diri sendiri aja yang nanggung perihnya. Asek.

Seenggaknya menangis nggak melukai orang lain. Daripada emosi itu keluar dalam wujud monster, menangis lebih sehat buat lingkungan sekitar kita.

Bagiku, bodo amat kalau orang bilang aku cengeng. Aku nggak peduli, karena mereka nggak mengalami apa yang kualami jadi mereka nggak tau seperti apa rasanya sampai aku inginnya cuma nangis.

Kadang menahan air mata ini justru membuatku jadi setan, marah-marah nggak jelas nyakitin orang lain, padahal ujung-ujungnya sakit sendiri. Mentok-mentoknya nangis lagi.

Kepalaku kadang rasanya seperti mau meledak aja, nggak tahan sekali mendengar orang teriak-teriak, bikin tambah mau meledak, seandainya kepalaku adalah granat ini udah tinggal "Duarr"-nya aja.

Aku sering begini, seperti saat ini. Sering berarti nggak selalu loh, ya, cuma ketika banyak banget pikiran. Galau nggak jelas. Marah nggak tau kenapa. Nggak tau lagi bakalan gimana kalau aku nggak punya kebiasaan nulis ini. Mungkin aku udah nggak ada dari lama.

Seringnya tulisanku sendiri yang suka ngasih aku kekuatan. Bikin aku mengenang lagi waktu-waktu paling terpuruk, membayangkan lagi masa-masa paling bahagia. Aku bersyukur karena Tuhan membuatku menulis semua ini.

Ya seenggaknya masih ada yang bisa disyukuri.

Kadang kita nangis cuma karena capek sekali. Atau cuma aku ya? Aku capek sekali makanya sekarang aku hampir sudah nggak tahan lagi, dadaku seseg, kepalaku berat, pundakku apalagi, mataku sudah panas sekali mau memuntahkan laharnya.

Nangis itu nggak masalah, nggak masalah kita cewek atau cowok menangis itu nggak ada pengaruhnya sama jenis kelamin. Nggak masalah kita anak-anak atau udah 20 tahun, nangis sama sekali nggak ada hubungannya sama usia, sama tua atau muda.

Kayak, kalian tau, gue sama seseorang itu, kita nggak ada ngaruhnya satu-sama-lain. Gue tetep gue, dan dia tetep dia meskipun orang-orang gemar ngelemparin kami pake olok-olokan nggak mutu. Stop, ini out of topic.

Selama dengan menangis aku jadi nggak menyakiti orang lain, aku akan tetep melakukannya kalau kapan hari hatiku sesakit sekarang. Aku benci terlalu peduli omongan orang yang hanya tau dari kulitnya dan nggak pernah coba mengupas apalagi nyicipin isinya.

Komentar