Curhat Itu Sehat


Dalam hidupnya tiap orang punya masalah mereka masing-masing. Yang beda adalah cara orang-orang menyelesaikan masalahnya.

Aku sendiri, teman-teman tau kan apa alasan blog ini ada, alasannya karena aku punya masalah dengan kemampuan bersosialisasi. Bukan berarti aku anti dengan bersosialisasi ya, aku nggak anti, aku cuma kesulitan berkomunikasi. Aku punya gangguan sulit memulai pembicaraan dengan orang baru, butuh waktu sangat lama biar aku bisa nyaman di tempat baru yang penuh orang-orang asing.

Aku senang mengenal orang baru, hanya saja orang baru itu yang mungkin nggak senang dengan kehadiranku. Aku bukan orang dengan inisiatif tinggi, butuh waktu sampai aku memutuskan memberi bantuan pada orang yang jelas-jelas memerlukan bantuanku.

Apalagi kepalaku seringnya cuma penuh dengan pikiran-pikiran negatif nggak beralasan. Aku terbiasa berpikir tentang keburukan suatu hal terlebih dulu. Dan ini bener-bener salah.

Kenapa aku nulis ini adalah, karena aku nggak bisa, ralat, nggak biasa melakukan yang orang-orang sebut dengan 'curhat'. Sangat susah mempercayakan isi hatiku ke seseorang, sekalipun orang itu orang yang sangat kukenal, keluargaku sendiri, aku bahkan nggak bisa membiarkan mereka tahu isi kepalaku.

Aku sering mikir mungkin aku perlu bantuan ahli psikis, takut juga kalau-kalau sebenernya ada yang salah dengan diriku.

Sampai aku sadar, apa sebenernya fungsi blog random ini. Buat curhat.

Daripada curhat di sosmed dan jadi bahan obrolan satu RT disini lebih aman. Karena menurutku, pada dasarnya tiap orang butuh mencurahkan isi hatinya, butuh mencurahkan tiap emosi yang dirasakan.  Sayangnya nggak semua orang mudah curhat ke orang lain. Padahal kalau kita nemu temen curhat yang tepat, aktivitas curhat itu sehat buat hati dan jiwa.

Memendam segala perasaan sendiri kadang malah meningkatkan stres, parahnya kalau sampai energi negatif menguasai diri kita dan malah bikin penyakit.

Menurut sebuah artikel yang pernah aku baca, orang yang suka memendam apapun yang dia rasakan lebih beresiko mati muda loh. Nggak heran kan ngeliat berita, beberapa public figure tiba-tiba bunuh diri, padahal sebagai audiens kita taunya mereka baik-baik aja ya kan? Kita taunya mereka terkenal, banyak uang, punya segalanya, yang kita lihat di media adalah hidup mereka yang sempurna, yang ditampilkan televisi tidak akan sama persis seperti lautan kehidupan yang sesungguhnya mereka arungi.

Untuk teman-teman yang senasib denganku, yang berusaha sekuat tenagapun tetep aja sulit cuhat ke orang lain, aku pernah mengalami memenuhi buku tulisku dengan catatan-catatan penuh tumpahan perasaan. Yang aku marah, aku sedih, aku bahagia, sampai jatuh cinta dan patah hati, aku mencurahkan semuanya di buku, karena waktu itu aku belum kenal blogger.

Ketika aku mencapai halaman terakhir dalam buku tulisku, aku sering membacanya lagi dari awal. Aku jadi nangis lagi pas baca catatan yang sedih-sedih. Kalau sudah puas baca, aku bakar bukunya. Aku nggak mau menanggung resiko buku itu bakal dibaca adikku yang usil atau emakku yang kadang kepo maksimal.

Kalian bisa coba cara ini, dan menyadari kita tetep punya tempat untuk berbagi rasa. Ketika menulis dibuku itu terasa nggak aman dan nggak praktis, sadar nggak sih apa yang sedang kita genggam sekarang? Yap, smartphone kalian. Jangan biarin telepon pintar kalian mubazir kepintarannya.

Kita bisa blogging kalau lagi butuh tempat cerita, nggak perlu malu karena belum tentu ada yang mbaca, santai aja. Kalaupun ada yaudah, bodo amat.

Kalau blogging masih terasa kurang praktis, temen-temen kan pasti punya socmed kan ya. Manfaatin. Curhat di sosmed nggak masalah kok, asal jangan berlebihan. Kalau orang-orang menanggapi dengan respons negatif, yaudah, cuekin aja, masa kita hidup cuma buat nyenengin orang lain? Dalam kasus ini, belajarlah cuek dan tebal telinga. Nggak masalah curhat di sosmed, asal hati kita plong, jiwa kita sehat. Eh yang penting curhatannya jangan sampai memicu timbulnya masalah baru loh, ya.

Karena ada orang yang curhat disosmed dan berlebihan, misal aku dengan frontal bilang aku benci—sebut saja—Dahlia, aku tuliskan di kolom status daftar keburukan Dahlia yang berhasil aku korek. Ini nggak sehat, tujuan curhat itu seharusnya biar hati dan jiwa kita lega, biar badan lebih enteng. Kurang lebih biar kayak, kalian tau perasaan setelah buang air besar? Nah, biar bisa selega itu.

Kalau temen-temen adalah tipe yang tidak suka curhatnya dibaca orang lain, temen-temen bisa download aplikasi notes di smartphone kalian, cari yang bisa di password, jadi privasi kita aman-terkendali. Aku dulu begini, tapi belakangan aku udah cuek ketika beberapa postingan alay di blog-ku dibaca temen. Biar lah.

Cuman, ketika curhat didunia maya kita harus tahu diri, jangan sampai lupa daratan, apa-apa ditulis tanpa filter tanpa sensor. Kita boleh curhat, tapi kita harus sadar nggak semua hal layak dibagi dan jadi konsumsi banyak orang.

Jangan egois dan berpikir yang penting aku senang, yang penting aku enggak stres. Seenggaknya sebagai umat beragama dan berideologi pancasila, kita harus punya kesadaran untuk membawa manfaat bagi sekalian insan.

Ingat bahwa apa-apa yang berlebihan itu nggak baik, tahu batasan akan membuat langkah kita selanjutnya lebih mudah dibandingkan ketika kita berusahs menghapus batas-batas yang sudah seharusnya ada.

Jadi temen-temen jangan ngerasa sendiri ya, aku juga masih belum bisa membuka diri dan curhat ke sahabat-sabahabatku, tapi masih berusaha terus. Percayalah semua ada waktu dan prosesnya.
Curhat itu sehat, bagaimana cara curhatnya, itu terserah teman-teman.

Satu lagi yang hampir kelupaan, sebaik-baiknya tempat curhat adalah kepada Sang Maha Pengertian, Maha Pengasih, dan selalu Maha Penyayang, Allah kita SWT.

Sekian dulu,

Thankyou ❤

Ehiyaa, gambarnya dari pinterest.com ya sist.

Komentar