Permohonan

Dari sekian banyak hal yang terjadi dan begitu banyak peristiwa yang kualami, sejak pertama kali aku mengenal istilah jatuh cinta, aku tidak pernah tahu jatuh cinta ternyata seperti ini.

Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta, dulu aku juga terjatuh untuk seseorang dan orang lainnya. Tapi aku hanya anak-anak yang sedang dalam masa peralihan menuju dewasa waktu itu—bukan berarti sekarang aku sudah dewasa, ya.

Dulu, kupikir jatuh cinta adalah ketika kurasa aku lebih banyak melihat pada seseorang, aku lebih banyak memikirkannya, membayangkan wajahnya, menyebut namanya dalam do'aku sebelum tidur—supaya Tuhan memberikan seseorang itu sebuah peran dalam drama bunga tidurku. Belakangan aku mencari tau beberapa hal soal jatuh cinta, soal cinta tepatnya. Ternyata selama ini aku hanya berpikiran sempit. Kupikir cinta adalah soal dua insan mabuk asmara dan suka saling bermesra, soal ikatan sederhana bernama pacaran yang jadi alasan keduanya saling memanggil dengan sayang.

Padahal alasan Ibu-bapak masih mau menampungku dirumah kecil mereka adalah cinta, padahal alasan Tuhan masih mengijinkanku menghirup oksigen hari ini juga adalah karena Dia Maha Cinta.

Tapi pikiranku melulu hanya tertuju pada laki-laki. Aku merasa tidak dicintai karena masa remajaku dihabiskan tanpa mengikat diriku dengan tali bernama pacaran. Ya ampun, kenapa aku menyedihkan begitu.

Sekarang ketika aku sudah 20 tahun dan benar-benar jatuh ke lubang setan itu, aku justru mati-matian mau menghindar. Jatuh cinta sungguhan ternyata capek, lelah dimana-mana. Padahal ini tidak seperti dulu yang aku sampai menangisi diriku yang begitu payah ini. Sekarang aku jatuh cinta dengan lebih tegar, aku hanya merasakan sakitnya yang bahkan tidak membuatku ingin menangis ini. Hanya saja kali ini berat karena waktunya betul-betul tidak tepat. Disaat aku sedang begitu kecewa karena hal-hal berlalu diluar kendaliku. Disaat aku merasa berada di titik terbawah dalam rantai makanan. Disaat segalanya belum juga membaik. Aku malah jatuh cinta. Parah. Harusnya bukan sekarang.

Biasanya aku hanya terkesima pada wajah tampan dan bakat seseorang. Kali ini aku jatuhkan diriku pada seseorang yang bukan tipe-ku, hanya saja dia spesial karena sesuatu yang tidak kumengerti.

Tapi aku sedang serius. Tuhanku, Allahku, bisakah aku jatuh cinta nanti saja? Ketika kurasa aku pantas untuk seseorang, ketika aku sudah jauh lebih baik dari ini. Aku sudah bukan remaja yang punya bayak waktu luang untuk sekedar mencintai seseorang secara sepihak. Aku tidak peduli dia jatuh cinta padaku atau tidak. Tapi aku sudah capek dengan macam-macam cinta sepihak yang mewarnai buku remaja-ku.

Di lain waktu ketika aku sudah lebih berani, seandainya perasaan ini masih betah bersamaku, akan kucoba mengatakan perasaanku padanya. Tentu saja kalau saat itu dia belum punya seseorang, kalau ternyata dia sudah baagia dengan orang lain ya sudah, biar aku jatuh cinta lagi pada yang lain.

Jadi intinya aku hanya akan terus jatuh dan bangun, berputar-putar di lingkaran yang sama, bertahan dalam lubang setan yang membelenggu, menunggu takdir Tuhan membawakan kesatria yang akan membebaskanku.

Saat ini aku masih sepayah dulu.

Komentar