The Powerless

Lelah apa tidak, apa itu penting. Berhentilah basa-basi.

Beberapa hal terlalu sulit dimengerti, aku yang tidak dewasa atau memang belum cukup usia. Nyatanya cukup umur lebih dan lebih luas dari yang pernah kubayangkan.

Pindah kedunianya orang dewasa secara tiba-tiba, kurang bekal, kurang pengetahuan, kurang pergaulan, kurang banyak hal, hampir seperti dipukul benda tumpul yang lumayan keras. Terbayang nikmatnya kan.

Terpaksa bertahan, harus bertahan.

Demi apa?

Entahlah.

Berhentilah kebanyakan tanya dan menjadi kepo.

Aku tidak mengerti lagi bagaimana caranya kucing kenalan lalu pacaran lalu tiba-tiba anak-anaknya berceceran.

Ini seperti ikan terdampar di air. Konyol dan tidak penting. Mengesalkan dan tidak bisa jadi bahan.

Ikan ingin pindah kedarat dan tidak perlu lagi memikirkan apa katanya lumut dan enceng gondok. Tidak perlu lagi pusing karena kepiting yang bikin sinting. Tidak usah repot sakit hati karena omongan udang atau karang.

Mereka tetap tidak tau apa yang tidak mereka tau soal ikan. Mereka hanya akan tau ikan sebagai yang sama-sama mendiami empang, dan merasa tau ikan dari sisik sampai kedalam durinya.

Betapa sok taunya ketika mereka bilang duri si ikan karatan. Pernyataan bodoh dan salah. Padahal hati si ikan yang karatan, durinya cuma sedikit pegal-pegal kecapekan.

Tapi syukurlah ikan tinggal diempang, jadi ketika sedih dan sangat marah lalu semua itu menjelma jadi air mata, tidak ada yang tau. Tidak perlu. Sudah ada Yang Maha Pengertian, Dia mengerti sehancur apapun perasaan ikan, Dia tau warna-warni serupa apa yang ikan lihat sewaktu merasa senang.

Syukurlah masih ada yang bisa disyukuri.

Aug 14th 2017

Komentar