apes

"hanya ketika sudah terbiasa,
maka semua rindu tak ada artinya,
segala air mata akhirnya sia-sia,
setiap rasa merana, gundah gulana
tak bermakna. Waktu memang penyembuh terbaik. Lihatlah betapa
melangkah itu mudah, merasa senang
juga segampang melengkungkan bibir
mencipta senyuman.
Pada akhirnya, setiap yang merasa
kehilangan akan sadar, bahwa
"tak ada yang abadi," itu
benar adanya.
Bahkan kadang kala,
Jatuh cinta itu hanyalah
rasa sementara, dan
menanggung rasa kehilangan
adalah rasa sementahun.
Tak apa kalau kita
harus menangis, tidak masalah
bila berduka, tidak akan
apa-apa sakit karena
terluka oleh yang tidak
sadar sedang melukai.
karena ketika hari berganti-ganti
dan bulan-bulan serta
tahun berlalu, waktu akan
menolong kita sambuh dari
semuanya. Walaupun tidak
ada luka yang tak
berbekas, setidaknya
kita harus
belajar untuk
IKHLAS"
----------------------------------------------------------

Dan karena tulisan buruk ini gue diketawain parah sama Si Encas sama Pina. Dua tengil yang, gk tau gimana bisa mereka jadi suka merecoki ueg ditempat kerja. Gue nulis itu di kantor—dalam tanda kutip dan di-italic namun tanpa underline, padahal cuman dimiringin doang— dalam kesendirian dan diantara gabut berserakan. Gue lagi mikir buat ngebuang jauh2 pikiran2 soal mas2 kmprt yang so out of reach itu. Maka menetaslah tulisan gaje itu.

Beberapa hari kemudiaaan...

Seperti biasa dua tengil itu suka ngerecokin hari tenang gue. Mereka ngerecokin hape ini, okelah, yaudah, gpp, cuma buat mainan.

Dan setelah puas ngerusuhin hape gue, sialnya dengan songong mereka kepoin tas kecil nan tipis milik gue. Padahal gue seriusan lupa kertas dengan tulisan weird itu ada disana.

Kemudian dengan sok polos, mereka nanya itu kertas apaan ke gue. Emang dasar apes, paginya gue udah niat mau ngeluarin kertas bekas kotak sikat gigi itu dari tas gue, tapi sayang niat tinggallah niat karena enggak dilaksanain. Lalu kesialan ini menimpa gue. Mereka baca tulisan itu, dan ini rasanya seperti mereka ngebaca potongan buku diary gue, malu-maluin setengah mati.

Udah gue uber2 mereka berdua, tetep enggak dapet kertas itu, tapi gue nggak nyerah, dengan segala daya upaya gue akhirnya berhasil merebut kertas itu dari tangannya Pina. Emang bocah satu ini resenya gk ketulungan. Yaaah, pokoknya anak2 disana mah rese semuaah. Gue suka anak kecil, tapi kadang gatahan sama keresean mereka.

Mereka gk tau apa artinya privasi. Mungkin belum tau. Tapi itu ngeselin bgt sumpah. Rasa-rasanya pengen gue celupin mereka ke telor terus ditepungin abis itu cemplungin ke penggorengan.

Ini jam 5:05 dan gue gk tau sudah mencet tombol snooze berapa kali, alarmnya sih bunyi dari jam 4an kalo gk salah. Sekarang gue laper, tapi diluar selimut rasanya dingin bgt, so, you know what i mean—jangan nyanyi loh yaa 😄

Komentar