Good Morning Dear Sunday

Menunggu dan menunggu terus sampai bosan. Membiarkan pagi melewati, siang terjelang, melangkahi sore hari, terus seperti itu sampai capek sendiri. Berharap terus memang bukan ide yang bagus.

Padahal tidak ada yang salah dengan berharap, masalahnya adalah, berharap pada apa. Sayang sekali aku berharap pada objek tak tentu, pada benda yang tidak mampu memberi kata pasti. Disini letak salahnya.

Siapa kamu siapa aku, tidak ada apapun diantara kita, tanpa benang penghubung dan tanpa apapun itu yang bisa membuat kita terhubung.

Tanpa tau harus mulai dari mana, sejak hari aneh itu perasaanku ikut2an aneh.

Mungkin saking akutnya harapanku yang tidak kesampaian itu, sampai kepala ini pintar berilusi, membuat mataku melihat apa yang seharusnya tidak ada, membuat sedih atas hal yang tidak perlu.

Sungguh ini rasanya seperti berada di lingkaran setan dan aku tidak berdaya dan tak punya cara keluar darinya. Kenapa jalan yang kulewati berlubang2 begini, aku keluar dari lubang yang satu, lalu jatuh lagi ke lubang yang lain, begitu terus seperti tidak ada rasa lelah di badan ini. Dan semua lelahnya menumpuk dan menumpuk dibatin.

Aku bersyukur bisa melakukan ini, setidaknya perasaanku tidak seberat beberapa saat yang lalu, hatiku tidak selelah beberapa waktu yang lalu.

Walaupun aku masih tidak mengerti dengan semuanya, dengan mereka yang hidupnya lebih enak dari seorang kuli sepertiku tapi wara-wiri mengeluh, tapi setidaknya beberapa saat kedepan kurasa aku akan baik-baik saja.

Hanya, semoga saja kewarasanku tidak meninggalkanku karena objek sialan itu.

30/07-17

Komentar