Kamis, 09 Maret 2017

Tanpa Judul Aja

Hayati enggak pernah kaget dibilang alay. Meskipun dedaunan gugur yang mengering itu juga menggambarkan perasaan hayatih.

Hahah. Apa coba.

Sori ya, maapin, emg darisananya gue begini, gue lahir terus segede ini, gue nggak inget apa persisnya yang bikin gue jadi begini. Gue sempat berpikir, apa gue difollow jin alay mangkanya gue begini amat? //na'udzubillah~

Tapi gue emg begini dari sononya. Gue nggak tau gue ini kurang gizi apa keracunan suatu zat yang bikin omongan gue kadang aneh, dan panen hakiman(?) alay dari temen.

Gue pernah denger beberapa kali, temen gue bilang "Gara2 deketan elo, gue sekarang jadi ikutan alay." Lah emang gue begini ngajak2 kalian? Enggak keles. Gue begini ya emg karena gue begini adanya.

Kalo kalian ngerasa jadi alay gegara gue,  ya maap. Hayati tidapernah sengaja yaw.

Abisnya gue harus bergaul dengan cara kek gimana lagi? Gue bisanya begini. Padahal ketika kalian bisa melihat gue yang versi alay, itu artinya gue dalam posis wenak alias PW dideket kalian. Karena nggak banyak orang yg bisa ngeliat kealayan gue.

Gue merasa gue kaku dan gabisa sans dihadapan beberapa orang. Gue munafik enggak sih? Gue nggak ngerti.

Begini cara gue hidup dan bergaul. Gue gangerti cara yang lainnya karena gue gk pernah diajarin itu disekolah, jg dirumah. Gue belajar sendiri cara bergaul.

Hayati juga lelah dianggap somse. Hayati juga ingin dibilang ramah. Astaghfirulloh. Kok arahnya jadi kemari. Jadi hati hayati masih belum bisa ikhlas rupanya. Masih selalu dan selalu mertimbangin apa kata orang. Dan mendamba hujan pujian yg memabukkan.

Ya ampun. Ada apa dengan diri hayati? Kenapa rasanya seperti ada yang salah?

Kenapa hayati suka alay beginih kalo ngomong? Apa gue sedang khilaf? Apa hayati khilafnya terus-terusan?

Ah mana gue tau. Yang hayati tau hanya hayati tidak ingin esok pagi cepat kemari. Hayati ingin hari ini lebih panjang dari hari-hari yang lain. Hayati pengen menghentikan waktu, terus ngelakuin semua hal, apa aja yg selalu pengen gue lakuin tapi nggak pernah kesampaian karena gue buta dalam hal mengatur waktu. Gue pengeeeeen pake bingit.

Jadi gue sedang duduk di depan kaca sekarang, kacanya guedee. Disana kelihatan jelas diri ini. Gue mengamati wajah yg hanya berubah jadi tua dan nggak ada tanda-tanda evolusi ke bentuk yang lebih indah dipandang. Astaghfirulloh. Kenapa lagi jadi melenceng kedaerah sini syeh??

Ngaco kan, ngaco kan, ngacooo???

Emg kapan sih hayati bisa ngomong bener sama diri sendiri? Padahal kadang suka soksokan menasehati orang lain. Memenej diri sendiri aja nggak mampu. Astaghfirulloh.

Kenapa ada makhluk seperti gue? Gue ini apa? Spirulina? Ganggang biru? Atau tanaman paku? Apa malah hanya sehelai gulma.

Ah, mana hayati tauh?
Yang hayati tau hanya bagaimana mencintai zainudin dengan cara yang benar dan lewat jalan yang direstui-Nya(?//what? #guegangertilagi #ciusyan #guesedangngomongapwah)

Oleh karena waktu dan kondisi yang makin kesininya makin begini, hayati kira cukup sekian, ocehan tak berfaedah ini. Semoga nggak jadi polusi mata. Yang penting hayati sudah legaan hatinya yaw.

Dear google, tengs udah bikin hal semcam jurnal ini, hayati jadi gausah susah-susah corat-coret dikertas. Tengs udah jadi perantara hayati curhat sama Yang Maha Mengetahui.

Sekian.