Tugas Mengarang Cerpen

Ini cerpen hasil tugas bahasa Indonesia, judulnya Tugas Mengarang Cerpen, karyaku sendiri, agak aneh, tapi ini cerpen, seriusan! Silahkan baca, copas juga boleh, tapi sertakan sumbernya, terimakasih~ :) happy reading, enjoy!


Tugas Mengarang Cerpen
Oleh: Ma'rifatul Khoirina

Sudah waktunya pulang sekolah, tapi tidak terdengar bel dari kelasku, tidak pernah. Hanya suara riuh dari luar yang kedengaran dari kelasku dan memberi tahu bahwa ini sudah saatnya pulang. Saat pulang adalah saat paling menyegarkan, setelah capek seharian belajar. Sudah jam 3 lebih seperempat. Aku berjalan dengan langkah cepat, aku tidak senang pulang sore kalau tidak ada alasan yang mengharuskan.

            Kulemparkan tasku kekasur, lalu aku berbaring disebelahnya. Capek. Pulang sekolah pasti adalah saat-saat paling melelahkan dalam sehari. Tugas-tugas yang menanti-nanti untuk dikerjakan membuat pikiranku selalu tidak tenang. Padahal minggu depan sudah waktunya Ulangan Tengah Semester, tapi tugas-tugas harianku masih banyak yang belum selesai. Aku merasa seperti akan gila kalu memikirkan itu.

            Lama-lama aku merasa mengantuk, disaat kelopak mataku sudah hampir mengatup seseorang membuka pintu kamarku. Ternyata Lala. Aku memang tinggal disebuah rumah kost tidak jauh dari sekolahku. Jarak rumahku jauh dari sekolah makanya  aku harus ngekost. Lala adalah temanku satu kost. “Sudah pulang?” katanya. Aku hanya mengangguk. Dia lalu menutup lagi pintu kamarku dan pergi. Teman sekamarku kebetulan sedang prakerin, jadi aku sendirian. Berpikir soal prakerin aku jadi ingat belum mengerjakan tugas mengarang cerpen yang harus dikumpulkan sebelum prakerin tanggal 20 Oktober nanti. Mengarang cerpen, tapi berdasarkan pengalaman yang pernah dialami. Aku sebenarnya tidak suka tugas seperti ini. Tapi inilah yang namanya sekolah. Kalau hanya hal-hal yang disukai saja yang kita lakukan itu bukan sekolah.

            Mengarang cerpen tentang pengalaman yang pernah kualami? Ketika ada tugas seperti ini aku justru jadi merasa seperti tidak punya pengalaman apapun. Rasanya aku menjalani hidup yang monoton, itu-itu saja.  6 hari dalam seminggu adalah untuk berangkat sekolah dipagi hari sampai sore, mengerjakan tugas yang macam-macam dari mapel A-Z semuanya ada tugas, mencuci pakaian setiap 2 hari sekali, tidur dimalam harinya, dan pulang kerumah setiap hari Sabtu sepulang sekolah dan berangkat lagi Minggu siangnya. Hidupku berjalan seperti itu dari minggu keminggu. Lalu aku harus menuliskan apa?

            Tidak ada hal khusus yang terjadi. Semuanya juga datar-datar saja. Aku bahkan belum tahu akan menuliskan apa, padahal waktunya tinggal seminggu lagi. Besok sudah hari Jumat, lusa sudah Sabtu, Sabtu ini aku sudah mulai Ulangan Tengah Semester hari pertama. Aku sama sekali tidak mendapat ide mau menulis tentang apa.

****

            Hari sudah berganti hari, serangkaian Ulangan sudah aku lewati, mulai dari ulangan teori yang tidak semuanya mudah, sebenarnya kebanyakan sulit, sampai beberapa mapel produktif yang ulangannya praktek. Dan besok adalah hari terakhir Ulangan Tengah Semester. Artinya hari Senin besok, tanggal 20 Oktober 2014 kami sudah mulai prakerin. Kemarin baru saja kami dari jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, dan jurusan Busana Butik diberi pembekalan untuk prakerin.

            “Siapa yang mau mengumpulkan tugas cerpen?” kata Nina  saat kami sedang duduk-duduk didepan ruangan kami melaksanakan UTS. Aku jadi ingat, aku bahkan belum mengarang apapun, jangankan mengarang, aku bahkan belum dapat ide. Beberapa orang teman sama denganku, belum menulis sedikitpun, tapi kebanyakan dari mereka sudah selesai. Aku jadi pusing, aku harus memaksa otakku menuliskan ide yang tidak pernah ada diotakku, menjadikannya sebuah cerita pendek.

“Besok terakhir mengumpulkan ya,” katanya Nina lagi.

“Haduh, iya, aku belum jadi cerpennya,” kata Dian yang duduk disebelahku.

“Aku juga, kamu mau ngumpulkan kapan?” tanyaku.

“Aku besok lah, terakhir kan besok,” kata Dian.

“Kamu mau cerita tentang apa?”tanyaku lagi.

“Ya tentang pengalamanku,”jawab Dian. “Kalau kamu?’ lanjutnya

“Aku belum dapat ide, Yan, sedikitpun,” kataku

“Kan, tinggal ceritakan saja apa yang sudah kamu alami,” kata Dian, aku bahkan jadi semakin bingung, aku merasa tak punya pengalaman untuk diceritakan. Tugas seperti ini lebih memusingkan daripada hitungan matematika. “Eh, nanti jadi, ya,” kata Dian padaku.

“Ngapain?”tanyaku.

“Katanya kamu mau bantu aku menginstall ulang laptop temanku,” kata Dian lagi

“Oh, iya iya, jadi,” jawabku.

Dan jadilah, sepulang sekolah aku menginstall ulang laptop teman Dian di kost-ku, dan baru selesai pukul 2. “Oh, iya, tugas cerpen, aduuh,  aku belum nemu ide lagi,” Kata Dian saat siap-siap akan pulang. “Aku, jugaa.. Aku bingung mau cerita apa, Yan,” kataku

“Aku sih, sudah bikin, tapi baru sedikit,” katanya lagi,

“Aku malah belum sedikitpun,” aah, lagi-lagi cerpen, bagaimana ini??

Tak lama setelah Dian pulang, kubuka laptopku, kupandangi monitor laptop didepanku, jari-jariku kuletakkan diatas keyboard tapi tak mengetik apapun. Pikiranku masih berputar-putar mencari topik apa yang akan kujadikan bahan menulis cerpen. Aku coba mengingat-ingat kembali hal-hal yang sudah terjadi, tapi tidak ada apapun, aku tak ingat sama sekali. Aku harus menulis apa? 5 menit, 10 menit, 15 menit, setengah jam, aku duduk dihadapan lembar kerja kosong. Belum sekatapun kutulis. Jangankan sekata, aku bahkan masih juga belum tahu akan menulis apa. Hampir sejam aku begini. Haah, bagaimana ini, aku bahkan belum selesai belajar untuk UTS hari terkahir besok. Aku harap aku dapat sebuah pencerahan.

Buntu sekali rasanya otakku.  Aku mulai memaksa otakku berputar.Aku akhirnya punya sebuah ide. Entah, bagaimana hasilnya. Tapi aku mencoba mulai merangkai kata-kata untuk cerpenku. Aku sebenarnya tidak mengerti cerpen macam apa yang kubuat ini, aku bahkan bingung ini cerpen atau bukan? Ah, sudahlah. Bagiku ini cerpen. Ini tugas menulis cerpenku.

--SELESAI--

Komentar